Minggu, 24 Maret 2013

model pembelajaran matematika



MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA

1.      HAKEKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Hakekat pembelajaran dalam matematika dilandasi oleh proses pembelajaran yang bersifat :
a. Tidak memaksa siswa untuk dapat memahami suatu pokok materi tertentu, dan
b. Tidak menjejali teori-teori atau konsep tertentu kedalam otak/pikiran anak.
Pembelajaran matematika harus memiliki sifat pembiasaan diri siswa untuk berfikir logis, rasional dan sistematis untuk mencari, menyelidiki, memecahkan masalah dan menemukan ilmu pengetahuan. Pembelajaran harus Memberikan Keyakinan terhadap siswa, bukan pembelajaran yang memberikan ilmu pengetahuan secara verbalisme.
Dengan demikian siswa diajak untuk dapat :
a. Aktif secara logis (tidak keluar dari kaidah-kaidah matematika).
b. Pembelajaran penuh rasional (pembelajaran yang mengajak siswa menggunakan alasan-alasan yang sesuai dengan kaidah).
c. Pembelajaran yang sistematis (pembelajaran memenuhi algoritma/ keteraturan yang jelas).

2. COORPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
a.      Hakekat coorperative learning
MemahamihakikatdariCooperative Learning,adabeberapadefinisidariparaahlibahasatentangmaknadariistilahCooperative Learning.David dan Roger Johnson memberikandefinisitentangcooperative learning , yaitubahwacooperative learningmerupakanstrategipengajaran yang berhasil di dalammembentukkelompokkecil yang masing-masingkelompoktersebutterdiridarisiswa-siswa yang memilikitingkatkemampuan yang berbedasehinggamerekabisabekerjasamadansalingmembantusesamalainnya.  Masing-masinganggotakelompokmempunyaitanggungjawabtidakhanyapadaapa yang telahdiajarkanoleh guru tapijugamembantuteman-temansekelompoknyadalambelajar, sehinggabisamenciptakansuasanakeberhasilan.
Sementara Jack C. Richardsdan Willy A. Renandyamenyatakandalamkutipannyayaitu:
Cooperative learning principles and techniques are tools which teachers use to encourage mutual helpfulness in the groups and the active particiationod all members
Dari kutipan di atasdapatdisimpulkanbahwaprinsip-prinsipdanteknikdariCooperative Learningadalahalat yang digunakanolehseorang guru untukmendorongsiswa-siswanyauntuksalingmembantu di dalamkelompoknyadanaktifberperanserta di dalammemecahkanmasalah.
b.      Penggunaan coorperative learning
Padapenggunaancooperative learning guru membentukkelasmenjadibeberapakelompokdengankemapuan yangberbeda-beda, yang mempunyaisifatsalingbekerjasama, ketergantunganpositif, dansalingmemberimanfaatsatusamalainnyadalamsatukelompok. Manfaatdaricooperative learningtersebutadalahmembantusiswadalammengembangkanpemahamandansikapnyasesuaidengankehidupannyata di masyarakat, sehinggadengan model pembelajarancooperative learninginidiharapkanakanmeningkatkanmotivasibelajarsiswa, sifatkoperatif, dan yang paling utamaadalahbisameningkatkanhasilbelajarsiswa yang maksimal. 
c.       Contoh penggunaan coorperative learning alam pembelajaran matematika
Ada beberapa contoh bentukbelajar dalam penggunaan coorperative learning yaitu :

a.      Students Teams Achievement Divisions (STAD)

            STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan koleganya di Universitas John Hopkin (Ibrahim dkk,. 2000; Ratumanan, 2002). Dalam STAD, siswa dibentuk dalam kelompok belajar yang terdiri dari 4 atau 5 orang dari berbagai kemampuan, gender dan etnis. Dalam praktiknya, guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam kelompok  untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai materi. Selanjutnya, siswa menghadapi tes individual. STAD mempunyai 5 komponen, yaitu (1) presentasi kelas, (2) kelompok, (3) kuis atau tes, (4) skor individual, dan (5) penghargaan kelompok (Slavin, 1995).


b. Jigsaw II
            Jigsawdikembangkan pertama kali oleh Elliot Aronson dan koleganya di Universitas Texas (Ibrahim dkk., 2000; Ratumanan, 2002). Dalam belajar kooperatif bentuk jigsaw II, siswa bekerja dalam kelompok seperti pada STAD. Siswa diberi materi untuk dipelajari. Masing-masing anggota kelompok secara acak ditugaskan untuk menjadi “ahli (expert)” pada suatu aspek tertentu dari materi. Setelah membaca materi, “ahli” dari kelompok berbeda berkumpul untuk mendiskusikan topik mereka dan kemudian kembali ke kelompok semula untuk mengajarkan topik yang mereka kuasai kepada teman sekelompoknya. Terakhir diberikan tes atau assesmen yang lain pada semua topik yang diberikan.

c. Investigasi Kelompok

            Investigasi Kelompok dikembangkan oleh Shlomo & Yael Sharon di Univesitas Tel Aviv (Slavin, 1995). Investigasi Kelompok adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik.
            Perencanaan untuk melakukan bentuk Investigasi Kelompok sama seperti pada bentuk belajar kooperatif yang lain. Perencanaan Investigasi Kelompok melibatkan lima tahap, yaitu (1) menentukan tujuan, (2) merencanakan pengumpulan informasi, (3) membentuk kelompok, (4) mendesain aktivitas kelompok, dan (5) merencanakan aktivitas kelompok secara keseluruhan. Tahap-tahap ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
            Seperti pada perencanaan, implementasi aktivitas meliputi lima tahap yaitu (1) pengorganisasian kelompok dan identifikasi topik, (2) perencanaan kelompok, (3) pelaksanaan investigasi, (4) penganalisisan hasil dan mempersiapkan laporan, dan (5) penyajian laporan.
            Masih banyak lagi bentuk belajar kooperatif lainnya, misalnya Team Assisted Instruction (TAI), Team Game Tournament (TGT), dan Think Pair Share (TPS).



Senin, 04 Maret 2013