MODEL
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1. HAKEKAT
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Hakekat
pembelajaran dalam matematika dilandasi oleh proses pembelajaran yang bersifat
:
a. Tidak memaksa siswa untuk dapat memahami suatu pokok materi tertentu, dan
b. Tidak menjejali teori-teori atau konsep tertentu kedalam otak/pikiran anak.
Pembelajaran matematika harus memiliki sifat pembiasaan diri siswa untuk berfikir logis, rasional dan sistematis untuk mencari, menyelidiki, memecahkan masalah dan menemukan ilmu pengetahuan. Pembelajaran harus Memberikan Keyakinan terhadap siswa, bukan pembelajaran yang memberikan ilmu pengetahuan secara verbalisme.
Dengan demikian siswa diajak untuk dapat :
a. Aktif secara logis (tidak keluar dari kaidah-kaidah matematika).
b. Pembelajaran penuh rasional (pembelajaran yang mengajak siswa menggunakan alasan-alasan yang sesuai dengan kaidah).
c. Pembelajaran yang sistematis (pembelajaran memenuhi algoritma/ keteraturan yang jelas).
a. Tidak memaksa siswa untuk dapat memahami suatu pokok materi tertentu, dan
b. Tidak menjejali teori-teori atau konsep tertentu kedalam otak/pikiran anak.
Pembelajaran matematika harus memiliki sifat pembiasaan diri siswa untuk berfikir logis, rasional dan sistematis untuk mencari, menyelidiki, memecahkan masalah dan menemukan ilmu pengetahuan. Pembelajaran harus Memberikan Keyakinan terhadap siswa, bukan pembelajaran yang memberikan ilmu pengetahuan secara verbalisme.
Dengan demikian siswa diajak untuk dapat :
a. Aktif secara logis (tidak keluar dari kaidah-kaidah matematika).
b. Pembelajaran penuh rasional (pembelajaran yang mengajak siswa menggunakan alasan-alasan yang sesuai dengan kaidah).
c. Pembelajaran yang sistematis (pembelajaran memenuhi algoritma/ keteraturan yang jelas).
2. COORPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
a. Hakekat
coorperative learning
MemahamihakikatdariCooperative
Learning,adabeberapadefinisidariparaahlibahasatentangmaknadariistilahCooperative Learning.David
dan Roger Johnson memberikandefinisitentangcooperative learning ,
yaitubahwacooperative learningmerupakanstrategipengajaran yang berhasil di
dalammembentukkelompokkecil yang
masing-masingkelompoktersebutterdiridarisiswa-siswa yang memilikitingkatkemampuan
yang berbedasehinggamerekabisabekerjasamadansalingmembantusesamalainnya. Masing-masinganggotakelompokmempunyaitanggungjawabtidakhanyapadaapa
yang telahdiajarkanoleh guru
tapijugamembantuteman-temansekelompoknyadalambelajar, sehinggabisamenciptakansuasanakeberhasilan.
Sementara Jack C. Richardsdan Willy A.
Renandyamenyatakandalamkutipannyayaitu:
Cooperative learning principles and techniques are tools which teachers use
to encourage mutual helpfulness in the
groups and the active particiationod all members
Dari kutipan di
atasdapatdisimpulkanbahwaprinsip-prinsipdanteknikdariCooperative
Learningadalahalat yang digunakanolehseorang guru untukmendorongsiswa-siswanyauntuksalingmembantu di
dalamkelompoknyadanaktifberperanserta di dalammemecahkanmasalah.
b. Penggunaan
coorperative learning
Padapenggunaancooperative
learning guru membentukkelasmenjadibeberapakelompokdengankemapuan
yangberbeda-beda, yang mempunyaisifatsalingbekerjasama,
ketergantunganpositif, dansalingmemberimanfaatsatusamalainnyadalamsatukelompok.
Manfaatdaricooperative learningtersebutadalahmembantusiswadalammengembangkanpemahamandansikapnyasesuaidengankehidupannyata
di masyarakat, sehinggadengan model pembelajarancooperative
learninginidiharapkanakanmeningkatkanmotivasibelajarsiswa, sifatkoperatif, dan
yang paling utamaadalahbisameningkatkanhasilbelajarsiswa yang maksimal.
c. Contoh
penggunaan coorperative learning alam pembelajaran matematika
Ada beberapa contoh bentukbelajar
dalam penggunaan coorperative learning yaitu :
a. Students Teams Achievement Divisions (STAD)
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan koleganya di Universitas John Hopkin
(Ibrahim dkk,. 2000; Ratumanan, 2002). Dalam STAD, siswa dibentuk dalam
kelompok belajar yang terdiri dari 4 atau 5 orang dari berbagai kemampuan,
gender dan etnis. Dalam praktiknya, guru menyajikan pelajaran dan kemudian
siswa bekerja dalam kelompok untuk memastikan bahwa semua anggota
kelompok telah menguasai materi. Selanjutnya, siswa menghadapi tes individual.
STAD mempunyai 5 komponen, yaitu (1) presentasi kelas, (2) kelompok, (3) kuis
atau tes, (4) skor individual, dan (5) penghargaan kelompok (Slavin, 1995).
b. Jigsaw II
Jigsawdikembangkan pertama kali oleh Elliot Aronson
dan koleganya di Universitas Texas (Ibrahim dkk., 2000; Ratumanan, 2002). Dalam
belajar kooperatif bentuk jigsaw II, siswa bekerja dalam kelompok seperti pada
STAD. Siswa diberi materi untuk dipelajari. Masing-masing anggota kelompok
secara acak ditugaskan untuk menjadi “ahli (expert)” pada suatu aspek
tertentu dari materi. Setelah membaca materi, “ahli” dari kelompok berbeda berkumpul
untuk mendiskusikan topik mereka dan kemudian kembali ke kelompok semula untuk
mengajarkan topik yang mereka kuasai kepada teman sekelompoknya. Terakhir
diberikan tes atau assesmen yang lain pada semua topik yang diberikan.
c. Investigasi Kelompok
Investigasi Kelompok dikembangkan oleh Shlomo & Yael Sharon di Univesitas
Tel Aviv (Slavin, 1995). Investigasi Kelompok adalah strategi belajar
kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi
terhadap suatu topik.
Perencanaan untuk melakukan bentuk Investigasi Kelompok sama seperti pada
bentuk belajar kooperatif yang lain. Perencanaan Investigasi Kelompok
melibatkan lima tahap, yaitu (1) menentukan tujuan, (2) merencanakan
pengumpulan informasi, (3) membentuk kelompok, (4) mendesain aktivitas
kelompok, dan (5) merencanakan aktivitas kelompok secara keseluruhan.
Tahap-tahap ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Seperti pada perencanaan, implementasi aktivitas meliputi lima tahap yaitu (1) pengorganisasian
kelompok dan identifikasi topik, (2) perencanaan kelompok, (3) pelaksanaan
investigasi, (4) penganalisisan hasil dan mempersiapkan laporan, dan (5)
penyajian laporan.
Masih banyak lagi bentuk belajar kooperatif lainnya, misalnya Team Assisted
Instruction (TAI), Team Game Tournament (TGT), dan Think Pair
Share (TPS).